Banten Girang

Dari beberapa data mengenai Banten yang tersisa, dapat diketahui, lokasi awal dari Banten tidak berada di pesisir pantai, melainkan sekitar 10 Kilometer masuk ke daratan, di tepi sungai Cibanten, di bagian selatan dari Kota Serang sekarang ini. Wilayah ini dikenal dengan nama “Banten Girang” atau Banten di atas sungai, nama ini diberikan berdasarkan posisi geografisnya. Kemungkinan besar, kurangnya dokumentasi mengenai Banten, dikarenakan posisi Banten sebagai pelabuhan yang penting dan strategis di Nusantara, baru berlangsung setelah masuknya Dinasti Islam di permulaan abad ke 16.

kegiatan eksavasi di banten girang, foto: pusat penelitian arkeolog nasional
kegiatan eksavasi di banten girang, foto: pusat penelitian arkeolog nasional

Banten Girang adalah suatu tempat di desa Sempu, kota Serang. Letaknya sekitar 10 km di sebelah selatan pelabuhan Banten sekarang, di pinggiran kota Serang. Di tempat tersebut terdapat suatu situs purbakala, peninggalan kerajaan Sunda yang pernah ada antara tahun 932 dan 1030 Masehi.

Tidak banyak yang diketahui mengenai sejarah dari bagian terbarat pulau Jawa ini, terutama pada masa sebelum masuknya Islam. Keberadaanya sedikit dihubungkan dengan masa kejayaan maritim Kerajaan Sriwijaya, yang menguasai Selat Sunda, yang menghubungkan pulau Jawa dan Sumatera. Dan juga dikaitkan dengan keberadaan Kerajaan Sunda Pajajaran, yang berdiri pada abad ke 14 dengan ibukotanya Pakuan yang berlokasi di dekat kota Bogor sekarang ini. Berdasarkan catatan, Kerajaan ini mempunyai dua pelabuhan utama, Pelabuhan Kalapa, yang sekarang dikenal sebagai Jakarta, dan Pelabuhan Banten.

Kajian Suwedi Montana, misalnya, menunjukkan bahwa nama Banten, atau yang dapat ditafsirkan sebagai Banten, tampak dari sejumlah historiografi lokal, seperti Cina Parahyangan yang menyebut istilah “Wahanten Girang”, prasasti Kaban-tenan menyebut nama “Bantam”, dan Purwaka Caruban Nagari yang memuat istilah “Kawungaten”. Selain itu, catatan Tome Pires (1512-1515) menyebut “Bantam” sebagai salah satu pelabuhan penting Kerajaan Sunda, di samping “Pongdam” (Pontang), “Cheguide” (Cigading), “Tamgaram” (Tangerang), “Calapa” (Sunda Kelapa) dan “Chemano” (Cimanuk). Pada abad 16-18 Banten kemudian berkembang menjadi label wilayah politik dan nama Kesultanan yang bercorak Islam.

Latar Belakang Berdirinya Situs Banten Girang
Banten Girang merupakan awal kerajaan Banten yang sebelumnya mendapat kebelakangan nama pada saat itu yaitu kerajaan Sunda Wahanten. Pendiri kerjaan ini ialah Prabu Jaya Bupati yang disebut juga Prabu Saka Domas. Prabu Jaya Bupati berasal dari keturunan kerajaan Mataram pada zaman Hindu, yang tidak mendapat kesempatan untuk mengabdi dikerajaan Mataram Kuno. Prabu Jaya Bupati mendirikan kerajaan Sunda di Banten Girang pada tahun 932 sampai tahun 1016, dengan luas wilayah kekuasaan meliputi Jawa Barat dengan perbatasannya Cipamali. Pada saat itu disebut kerajaan Tatar Sunda, dengan keadaan yang subur makmur, sehingga dapat menjalin hubungan dengan kerajaan di Jawa.
Pada tahun 1016 Prabu Jaya Bupati memindahkan pusat pemerintahannya ke daerah Cilaceh Sukabumi karena khawatir akan adanya penyerbuan yang akan dilancarkan oleh kerajaan Sriwijaya terhadap kerajaan Tatar Sunda di Banten Girang, mengingat usia Prabu Jaya Bupati yang sudah tua pada saat itu, ketika Prabu Jaya Bupati berada di pengungsian berhasil mendirikan kerajaan Surawisesa. Pada tahun 1357 kerajaan Surawisesa di pegang oleh Prabu Baduga Sir Maharaja, keraton Surawisesa disebut kerajaan Pajajaran.
b. Masa Kerajaan Sunda Pajajaran
Penamaan Pajaran untuk kerajaan Sunda, sesungguhnya berasal dari penamaan keraton Sri Bama – Punta – Naryana – Madura – Suradipati yang bentuknya sebangun dan berjajar oleh karena keraton tersebut berada di kota Pakuan masyarakat sering menyebutkan Pakuan pajajaran. Berdasarkan cerita pantun dan babab, kerajaan Sunda lebih di kenal dengan sebutkan pajajaran, sedangkan berdasarkan sumber-sumber Portugis, nama resmi kenegaraan tetap menggunakan sebutan kerajaan Sunda.
c. Sri Baduga Maharaja
Sri baduga Maharaja mempunyai seorang putra yang dijadikannya sebagai penerus tahta kerajaan, karena putra Sri Baduga masih kecil, mata akhirnya kerajaan tersebut di pimpinan oleh Praih Bunisora pada tahun 1352-1371. Namun, setelah putra Sri Baduga Maharaja sudah cukup usia, kerajaan tersebut akhirnya dipimpin oleh putra raja Baduga pada tahun 1371, yang bernama Nuskala waktu kencana, dan akhirnya dengan pertimbangan Raja Niskala Wastu Kencana, kerajaan Suwawisesa di pendidikan di Galuh, yang disebut kerajaan Galuh Pakuan, kemudian digantikan oleh Putra raja yang bernama Taba’an karena raja taba’an menikah dengan orang Islam, maka tokoh-tokoh masyarakat kerajaan Sunda Galuh Pakuan hampir semua kecewa atas perilaku keluhurnya, sehingga digantikan oleh Prabu Jaya Dewata atau disebut juga Prabu Pucuk Umum.
Peristiwa perbuatannya di Pakuan sekaligus menjadikan Jaya Dewata seorang Maharaja, karena kekuasaan pemerintahannya meliputi kerajaan Sunda dan kerajaan Galuh. Peristiwa tersebut sesuai dengan isi prasasti Batu tulis kota Bogor. Prasasti batu tulis kota Bogor, dibuat oleh Ratu Sanghiyang Surawisesa pada tahun 1533 M. Pembuatan prasasti tersebut dilakukan dengan upacara penyempurnaan Sukma untuk mengenang jasa-jasa dan kebesaran ayahnya. Sri Baduga Maharaja, upacara semacam itu hanya dilakukan untuk raja-raja tertentu, jika seorang raja wafat kemudian setelah 12 tahun masyarakat masih menceritakan jasa-jasanya.
d. Sikap Terhadap Muslim
Sebelum Sri Baduga Maharaja lahir dikerajaan Sunda sudah ada penganut agama Islam, tokoh tersebut adalah Bratalegawa Putera Mangkubumi Bunisora Suradipati. Bratalegawa adalah adik Curidewata alias Ki Gedeng Kasmaya, raja Cirebon Cairung, Bratalegawa lahir tahun 1350 M. Bratalegewa menikah dengan wanita masuk dari Gujarat. Walaupun berbeda agama ia tetap hidup rukun dengan saudara-saudaranya.
Berdasarkan Koprak 406 carita Paranghiyangan, setelah Sri Baduga Maharaja wafat, ada 5 orang saja pendiri tahta kerajaan Pajajaran, antara lain:
1. Prabu Sanghiyang Surawisesa (1521 – 1635 M)
2. Ratu Dewatabuana (1535 – 1543 M)
3. Ratu Sakti (143 – 15551 M)
4. Prabu Raga Mulya Suryakencana atau Prabu Pukuk Umum Pulosari (1537 – 1579 M).
Setelah kerajaan Galuh Pakuan (Pajajaran) dipundah ke Banten Girang bekas kerajaan Sunda tertua. Pada suatu saat, ajar yang sebagai Patih kerajaan Dewata agar adiknya yang bernama Ajarju untuk diangkat menjadi tumenggung, karena melihat adiknya yang cukup lama mengabdi kepada rajanya Prabu Jaya Girang, yang dinamakan Pajajaran Banten dibantu oleh wakil putihnya putihnya yang bernama Ajar Ju.
Pada suatu ketika terjadi konflik intern didalam kerajaan, sehingga Ajarjong keluar dari kerajaan Pajajaran Banten, kemudian Ajar Jong pergi mengabdi dikerajaan Islam Jawa Demak, sehingga mengenal orang-orang penting dikerajaan Islam Demak. Diantara Sultan Trenggono dan Syariat hidayatulah untuk menguasai kerajaan pengajaran Banten untuk menjadi penganut agama Islam.
Fase-fase kehidupan di Banten Girang yang meliputi :
1) Fase I : Fase subordinasi Pakuan-Pajajaran dimana gua dijadikan pusat upacara keagamaan bercorak Hiduistik (Hindu – Budha);
2) Fase II : Fase pendudukan/administrasi politik Islam masa Maulana Hasanuddin;
3) Fase III : Fase surutnya Banten Girang karena pusat administrasi politik dipindahkan ke Banten lama di pesisir, tetapi Banten Girang masih tetap digunakan bahkan sampai masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa (1652 – 1671), sultan Banten kelima.
4) Fase IV : Fase akhir, ketika Banten Lama sudah diancurkan oleh Daendels pada tahun 1815, dimana diduga frekuensi penggunaan Banten Girang semakin menurun.
5) Fase resen, okupasi lanjut oleh penduduk Banten Girang masa sekarang yang digunakan untuk lahan pertanian dan lahan pemukiman. (lukman nurhakim, 1992).

Tahun 1526 kerajaan Demak merebut pelabuhan Banten dan Banten Girang, dibantu Gunung Jati, Hasanuddin dan Ki Jongjo. Hasanuddin naik tahta, menggantikan raja yang dalam sumber Portugis dipanggil “Sanghyang” dan baru meninggal. Peristiwa ini merupakan pendirian kerajaan Banten. Hasanuddin memindahkan pusat kerajaan dari Banteng Girang ke pelabuhan Banten. Namun sampai akhir abad ke-17 Banten Girang masih dipakai sebagai tempat istirahat raja.

Kesimpulan
– Banten Girang merupakan kerajaan Islam pertama di Banten, yang awalnya merupakan kerajaan Hindu Budha.
– Kerajaan tersebut merupakan kerajaan yang subur makmur sehingga dapat berhubungan dengan kerajaan di Jawa.
– Banten Girang banyak bukti-bukti penunggalan dan terdapat makam-makam, seperti Ki Mas Jong, Agus Jo, sehingga banyak peziarah yang berkunjung di situs Banten Girang.

dari berbagai sumber

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *