Gunung Karang

Gunung Karang ( Coral Mountain)

280px-Gunungkarang

Gunung karang masuk kedalam kategori Gunung Stratovolcano yaitu Gunung yang memiliki kemungkinan untuk meletus. meski tidak ada catatan sejarah tentang letusan gunung ini.
Tinggi gunung karang adalah 1778 mdpl ( meter dari permukaan laut), Puncaknya bernama Sumur Tujuh

Lokasi Gunung Karang berada di Pandeglang, Banten Indonesia 20km sebelah selatan Serang.
Gunung ini merupakan gunung tertinggi di Banten dan merupakan lokasi wisata ziarah favorit di Banten.

Wisata Gunung Karang
Sejak terbentuknya Provinsi Banten, pemerintah setempat menggalakkan promosi wisata. Dan, Gunung Karang menjadi salah satu objek wisata yang diharapkan mampu menarik wisatawan dengan potensi keindahan alamnya juga wisata spiritual yang dimilikinya.
Ada tiga jenis kategori destinasi wisata di daerah Gunung Karang yaitu:

Wisata Pendakian

Pada umumnya jalur pendakian Gunung Karang yang diketahui ada 2 jalur, yang pertama melewati Desa Kaduengang, jika dari arah serang mulai masuknya dari jalan raya Serang-Pandeglang lurus melewati Baros dan Pertigaan tugu ada Alfamart sebelah kiri Ds Juhut terus lurus naik sampai Ds Kaduengang.
yang kedua Jalur Pagerwatu/Ciekek.

Wisata Air / Pemandian

•Batu Quran
•Pemandian Cikoromoy
•CAS Cikole
•Pemandian Air Hangat Cisolong

Wisata Ziarah Gunung Karang

Ziarah secara etomologi bahasa adalah perjalanan berkunjung, atau mengunjungi suatu tempat.

Menurut Wikipedia Ziarah Adalah salah satu praktik sebagian besar umat beragama yang memiliki makna moral yang penting. Kadang-kadang ziarah dilakukan ke suatu tempat yang suci dan penting bagi keyakinan dan iman yang bersangkutan. Tujuannya adalah untuk mengingat kembali, meneguhkan iman atau menyucikan diri. Orang yang melakukan perjalanan ini disebut peziarah.

Diantara makam keramat di daerah Pandeglang yang banyak diziarahi oleh masyarakat, termasuk masyarakat dari luar daerah, antara lain:

Makam Syekh Mansur di Cikadueun
Makam Syekh Abdul Jabbar di Karangtanjung
Makam Syekh Asnawi di Caringin
Makam Syekh Daud di Labuan
Makam Syekh Rako di Gunung Karang
Makam Syekh Royani di Kadupinang
Makam Syekh Armin di Cibuntu
Makam Abuya Dimyati di Cidahu
Makam Ki Bustomi di Cisantri
Makam Nyimas Gandasari di Panimbang

Aktivitas ziarah ke makam-makam keramat tersebut biasanya meningkat tajam pada bulan Mulud (Rabiul Awal, bulan lahirnya Nabi Muhammad Saw.), menjelang bulan Ramadan, sehabis Lebaran, pada malam Jumat, dan pada hari-hari libur. Tetapi pada hari-hari biasa pun selalu ada saja orang yang berziarah.
(sumber: serang-banten.blogspot.com)

Cerita Mistis dan Legenda Gunung Karang

Di Gunung Karang ini dahulu terdapat seorang putri yang sangat cantik jelita bernama Nyi Putri Sari Wulan atau sebagian masyarakat menyebutnya Nyi Putri Badriah. Kecantikan yang dimiliki oleh Nyi Putri ini, akhirnya menarik perhatian dua orang laki-laki yang masih bersaudara (adik-kakak, red). Kedua orang yang sama-sama mencintai Nyi Putri ini adalah Ki Lenggang Jaya (kakak) dan Ki Lamuafi (Adik).

kuburan nyai putri

Kedua orang yang memiliki kesaktian ini akhirnya harus mempertaruhkan nyawanya untuk memperebutkan Nyai Putri. Ki Lamuafi yang memiliki kesaktian melebihi kakaknya ini dipercaya memiliki Ilmu Karan. Ilmu kesaktian yang sangat sulit sekali dikalahkan oleh saudaranya. Akhirnya dengan siasat yang licik Ki Lenggangjaya dapat mengalahkan Ki Lamuafi pada saat dirinya lengah. Ia menyembelih Ki Lamuafi saat sedang sujud di tempat dimana ia sering bertapa.

Posisi Ki Lamuafi yang sedang bersujud itu, akhirnya berubah menjadi sebuah batu. Batu yang berbentuk seperti orang sedang bersujud ini, menurut kepercayaan masyarakat setempat adalah wujud Ki Lamuafi saat ia disembelih oleh Ki Lenggang Jaya.

Sedangkan Ki Lenggang Jaya sendiri menurut cerita Haji Tobri, berubah wujud menjadi seekor Harimau, yang sampai saat ini dipercaya masih menghuni petilasan-petilasan tersebut. Nyi Putri yang mengetahui peristiwa ini, dengan kesedihan yang sangat mendalam akhirnya meninggal dunia dan dikubur disekitar petilasan-petilasan tersebut.
Peninggalan-peninggalan yang memperkuat cerita tersebut dan dipercaya kebenarannya oleh masyarakat yaitu berupa Sumur dimana Nyi Putri sering mandi disitu, tempat pertapaan Ki Lamuafi yang berupa batu datar ukuran 1 X 1 meter, sebuah Goa tempat dimana Ki Lenggangjaya bertapa, Kuburan Nyi Putri serta sebuah batu yang berbentuk sesosok manusia yang sedang bersujud.


petilasan-petilasan tersebut sampai saat ini sering dikunjungi oleh orang-orang dari luar kota dengan berbagai maksud dan tujuan yang beragam. Biasanya mereka yang datang secara berombongan ini adalah untuk mencari karomah dari petilasan tersebut, mereka biasanya berharap karomah untuk peruntungan, dagang dan perjodohan.

Tempat pemandian Nyi Putri yang berupa sumur dan sering digunakan mandi oleh Nyi Putri ini, bagi sebagian penziarah dipercaya memiliki karomah untuk memudahkan perjodohan. Sedangkan batu tempat bertapanya Ki Lamuafi dipercaya penziarah memiliki karomah untuk perdagangan dan peruntungan. Sedangkan Goa yang berdiameter kurang lebih setengah meter ini, sampai saat ini tidak ada orang yang berani memasukinya, baik masyarakat setempat maupun para peziarah. (sumber: https://humaspdg.wordpress.com/2010/05/14/sebuah-legenda-yang-hampir-terlupakan/)