Situ Tasikardi, Danau Buatan Sultan Banten

Sejarah Tasikardi

Tasikardi terletak kurang lebih 2 km di sebelah tenggara keraton Surosowan, adalah suatu danau buatan/situ yang luasnya kurang lebih 5 ha, sementara airnya hanya memenuhi 4 ha dengan kedalaman kurang lebih 1 meter, pada tengahnya terdapat sebuah pulau kecil yang khusus di buat oleh Sultan Tirtayasa untuk ibunda Sultan bertafakur “mendekatkan diri pada Allah”, yang membuat saya kagum dari danau tasikardi adalah tritmen air yang ada di sekitar tasikardi, yakni tritment untuk merubah air yang berwarna merah (campur tanah) menjadi air bersih yang siap pakai, tritmen ini melalui tiga tahapan yaitu tritmen satu (pangindelan abang), tritmen dua (pangindelan putih) dan tritmen tiga (pangindelan emas).

Danau Tasikardi Banten

Menurut pakar arkeologi H. Halwany Michrob (almarhum), bahwa teknologi yang ada pada pengolahan air bersih di Banten pada zaman kesultanan merupakan perpaduan antara teknologi belanda dan teknologi cina, ini terlihat dari bentuk bangunan setiap pengindelan dan sistem irigasi yang ada. Di sekitar danau dibangun tembok atau benteng keliling. Areal benteng ini disetiap sudut terdapat pintu air. Berbeda dengan danau-danau yang lain, disini selain untuk pengairan sawah (irigasi) air danau ini juga sebagai air bersih bagi kebutuhan keraton surosowan, bisa dilihat dari saluran air danau yang menuju ke keraton surosowan.

Pulau yang ditengah danau berbentuk segi empat dan diberi tembok keliling setiap sisinya. Terdapat tangga untuk naik disisi sebelah utara, sebuah memandian terletak sebelah timur dengan beberapa anak tangga untuk menuju ke bawah, sekarang yang tersisa hanyalah pondasi bangunan yang terdiri dari batu bata.

Pangindelan Abang

Pangindelan Abang merupakan bangunan penyaring pertama yang menyalurkan air danau ke keraton surosowan, bangunan ini terbuat dari batu bata. Terdapat rongga didalamnya dengan bentuk melengkung, atap ditopang oleh dua buah pilar yang kokoh, panjangnya 18 meter, lebar 6 meter, terdapat satu pintu masuk yang berbentuk melengung dengan tinggi 1,5 meter. Sekarang yang ku lihat hanya genangan air dan sampah yang terdapat didalamnya.

Pangindelan Putih

Pangindelan Putih merupakan bangunan penyaring kedua setelah pangindelan abang. Letaknya sekarang jauh ditengah pesawahan yang menyalurkan air danau ke keraton surosowan, bangunan ini terbuat dan berukuran persis sama dengan pangindelan abang. Hanya saja bentuk banguannya agak sedikit berbeda atap bangunannya berbentuk setengah lingkaran dan terdapat lubang bulat dibagaian belakang. terdapat satu pintu masuk yang berbentuk melengung dengan tinggi 1,2 meter. Tapi aku tidak dapat melihat yang ada didalamnya.

Pangindelan Emas

Pangindelan Emas sekarang hanyalah tinggal puing-puing saja, atapnya sudah hancur dibagian depan terdapat sisa bekas saluran air yang terbuat dari batu bata, bentuk asli bangunan sudah tidak diketahui secara pasti. Pangindelan emas merupakan penyaringan air yang terakhir sebelum masuk kedalam keraton surosowan karena air yang keluar dari pangindelan emas merupakan air yang sudah dalam keadaan bersih dan dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari.

Pada masa Sultan Tirtayasa pun danau tasikardi tidak kurang penting, pada tahun 1706 Sultan Banten menerima seorang Belanda bernama Cornelis de Bruin, mereka berdiskusi di pulau tasikardi mengenai perdagangan Banten-Eropa. Begitulah menurut Halwany dalam bukunya ”Penelitian Arkeologi Situs Tasikardi Banten Lama”, dan setelah Banten sebagai pusat kota islam dipindahkan kedudukanya di Serang oleh Belanda tahun 1816, maka fungsi danau tasikardi berakhir tidak lagi berfungsi sebagaimana mestinya. (perpushalwany.blogspot.com)

Tasikardi Sebagai Objek Wisata

Sebagai obyek wisata sejarah, danau ini merupakan salah satu tempat rekreasi yang cukup ramai dikunjungi baik oleh warga sekitar maupun oleh pelancong, terutama pada akhir pekan dan hari-hari libur lainnya.

Air danaunya yang tenang dan bergerak mengikuti hembusan angin, serta jejeran pepohonan rindang yang mengelilinginya, tepat sekali dipilih sebagai tempat rekreasi yang menyenangkan bersama keluarga, atau sekadar untuk mencari inspirasi.

Nuansa agraris nan hijau yang tercermin dari hamparan luas areal persawahan yang mengitari danau, apalagi ketika memasuki musim tanam atau musim panen, kian melengkapi daya tarik kawasan ini. Wisatawan dapat menikmati keindahan Danau Tasikardi dari bawah rindangnya pepohonan, shelter-shelter, atau sambil lesehan di atas tikar yang disewakan.

Selain itu, danau ini adalah rumah bagi banyak ikan, sehingga pelancong yang suka memancing dapat menyalurkan hobinya di sini sepuas hati. Sedangkan bagi wisatawan yang ingin “menyatu” dengan kawasan danau, dapat berkemah di camping ground yang luas dan aman yang terdapat di kawasan ini.

Bila anda bosan berada di tepi danau, anda dapat mendatangi sebuah pulau yang dahulunya merupakan tempat rekreasi keluarga kesultanan. Untuk mencapai pulau seluas 44 x 44 meter persegi yang berjarak sekitar 200 meter dari bibir danau ini, wisatawan dapat menyewa perahu atau bebek-bebekan. (serang-banten.blogspot.com)

 

Rute Menuju Tasikardi

Rute pertama melalui Jl. Banten Lama, melewati Pelabuhan Karanghantu, Benteng Speelwijk dan Vihara Avalokitesvara.

Rute kedua dapat dilalui dari Kota Serang mengambil arah menuju Kota Cilegon. Di Kota Kecamatan Kramatwatu dekat perempatan lampu merah kramatwatu atau alun-alun kramatwatu, Anda dapat mengambil arah ke utara (belok kanan) menuju Danau Tasikardi dengan jarak yang sama. Infrastruktur jalan dari kedua arah terbilang mulus.

Rute Ketiga, melalui jalan grujugan ke arah desa kenari, jalanan agak rusak dan sempit karena memasuki jalan kampung. (serang-banten.blogspot.com)

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *